- Back to Home »
- Pentingnya Perkembangan Sektor Industri dan Industrialisasi
Posted by : Unknown
Senin, 22 Juni 2015
Pentingnya Perkembangan Sektor
Industri dan Industrialisasi
Peningkatann sektor industri
dapat ditujukan demi mempereratnya kapasitas industri suatu daerah, lebih
tepatnya industri-industri yang memiliki sifat kopetitif unggulan. Sebab
dibuatnya rencana meningkatkan sektor industri, tentu saja sangatlah diinginkan
bisa mengembangan penghasilan para pemilik serta karyawan industri itu
sendiri, dan tak lupa menetapkan struktur industri di pelosok desa agar bisa
memberikan suau nilai lebih untuk desa tersebut. Diluar dari segi
industrialisasi, yang bisa kita lihat adalah jumlah penduduk Indonesia yang
merupata terpadat ketiga setelah India dan China. Akan tetapi Indonesia bisa
digolongkan sebagai salah satunya indikator level industrialisasi yaitu
sumbangan sektor industri dalam Gross Dosmetic Product (GDP). Ika dilihat dari
ukuran ini sektor industri Indonesia berada di posisi belakang dengan
ketertinggalannya dari sejumlah negara-negara ASEAN. Dua ukuran lain ialah
tingginya nilai tambah yang dihasilkan sektor industri dan nilai tambah
perkapitanya.
Yang lebih mencemaskan, hingga
saat ini fondasi dan struktur ekonomi Indonesia masih rapuh, sangat bergantung
pada eksploitasi SDA yang miskin hilirisasi dan nilai tambah.Pertumbuhan
ekonomi dalam sepuluh tahun terakhir lebih dari 70 persen berasal dari
konsumsi, ekspor komoditas mentah, aliran masuk ’uang panas’, dan sektor non-tradable seperti
properti, hotel, malls, dan jasa angkutan.Sementara itu, kita mengimpor
mesin dan peralatan mesin, bahan baku dan bahan penolong untuk memasok industri
nasional.Barang-barang konsumsi (consumer goods) buatan luar negeri seperti
kulkas, mesin cuci, microwave, oven, kipas angin, AC, komputer, dan
HP membanjiri pasar domestik di seluruh wilayah Nusantara.Akhir-akhir ini
kita mengimpor pesawat terbang, kapal perang, dan alutsista dalam jumlah yang
sangat besar.Bahkan, ironisnya Indonesia kini menjadi bangsa pengimpor pangan
terbesar di dunia, mulai dari beras, jagung, gandum, kedelai, gula,
buah-buahan, bawang putih, ikan sampai garam.
Faktor-Faktor yang dapat
menghambat perkembangan perindustrian adalah keterbatasan serta kurangnya
perluasan penelitian dalam bidang teknologi menghambat kemampuan produksi,
minimnya tenaga profesional di Indonesia menjadi penghambat untuk mendapatkan
danmengoperasikan alat alat dengan teknologi terbaru, sedikitnya dana
pengembangan teknologi oleh pemerintah untuk mengembangkan infrastruktur dalam
bidang riset dan teknologi. Untuk menyelesaikan hambatan-hambatan tersebut, mulai
sekarang kita harus membangun perekonomian negara ini berbasis industri yang
inovatif, inklusif, dan ramah lingkungan. Suatu sistem perkonomian yang mampu
menghasilkan barang dan jasa (goods and services) yang kompetitif untuk
memenuhi kebutuhan nasional maupun ekspor secara berkelanjutan. Ciri dari barang
dan jasa yang kompetitif adalah kualitasnya unggul, harganya relatif murah, dan
volume produksinya teratur serta dapat memenuhi kebutuhan konsumen (pasar)
domestik maupun ekspor setiap saat diperlukan.Barang dan jasa dengan tiga ciri
semacam itu hanya dapat diproduksi oleh perusahaan (unit usaha) yang memiliki
produktivitas dan efisiensi yang tinggi.Yakni perusahaan yang memenuhi skala
ekonomi, menggunakan teknologi mutakhir dalam setiap mata rantai sistem
bisnisnya, menerapkan manajemen sistem rantai suplai (produksi – processing –
pemasaran) secara terpadu, dan mengikuti prinsip-prinsip pembangunan
berkelanjutan yang ramah lingkungan.
Dalam jangka pendek dan menengah,
kita mesti memperkuat dan mengembangkan perusahaan-perusahaan nasional berskala
besar (korporasi) maupun UMKM yang mampu menghasilkan barang dan jasa yang
kompetitif, membuahkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, menyerap banyak tenaga
kerja dengan pendapatan rata-rata sedikitnya pendapatan minimal untuk negara
berpendapatan menengah atas, dan tersebar secara proporsional di seluruh
wilayah NKRI ini sangat mungkin kita realisasikan dengan meningkatkan
efisiensi, produktivitas, dan nilai tambah sektor-sektor ekonomi SDA
(pertanian, kelautan dan perikanan, kehutanan, ESDM, dan pariwisata) secara
berkeadilan dan ramah lingkungan.Melakukan ekstensifikasi dan diversifikasi
sektor ekonomi SDA berbasis inovasi ramah lingkungan, terutama di luar Jawa dan
Bali.Selain itu, kita harus merevitalisasi industri-industri yang selama ini
menjadi unggulan nasional (seperti tekstil, elektronik, otomotif, makanan dan
minuman, dan industri kreatif) supaya lebih produktif dan berdaya saing di
pasar domestik maupun global.
Transformasi struktur ekonomi
juga mencakup peningkatan kapasitas bangsa untuk mendiversifikasi struktur
produksi domestik, mengembangkan sektor-sektor ekonomi baru (seperti kelautan,
teknologi informasi, energi baru dan terbarukan, bioteknologi, nanoteknologi,
dan new materials); memperkokoh keterkaitan ekonomi (economic linkages)
antar sektor pembangunan dan antar wilayah; dan meningkatkan peran Indonesia
dalam sistem rantai produksi global agar lebih sebagai bangsa prodsuen, bukan
konsumen seperti dalam sepuluh tahun terakhir.
Perindustrian di Indonesia telah
berkembang pesat. Namun perindustrian yang telah majutersebut tampaknya malah menjadi malapetaka bagi sektor pertanian. Dengan semakin banyaknya pabrik yang berdiri di setiap daerah
bahkan daerah pedesaan telah menggusurlahan-lahan pertanian produktif yang jika tetap digunakan dapat menghasilkan komoditas pertanian yang unggul. Selain itu hujan asam
yang timbul akibat adanya pencemaran darigas-gas beracun yang tersebar di udara oleh pabrik-pabrik tersebut dapat merusak tanamandan tanah sehingga hasil yang didapat sangat tidak bagus bahkan kurang baik jika dikonsumsi oleh manusia.
bahkan daerah pedesaan telah menggusurlahan-lahan pertanian produktif yang jika tetap digunakan dapat menghasilkan komoditas pertanian yang unggul. Selain itu hujan asam
yang timbul akibat adanya pencemaran darigas-gas beracun yang tersebar di udara oleh pabrik-pabrik tersebut dapat merusak tanamandan tanah sehingga hasil yang didapat sangat tidak bagus bahkan kurang baik jika dikonsumsi oleh manusia.
Dampak Industrialisasi Di
Indonesia, pengalaman beberapa negara berkembang khususnya negara-negara yang
gandrungmemakai teknologi dalam industri yang ditransfer dari negara-negara
maju (core industry)untuk pembangunan ekonominya seringkali berakibat pada
terjadinya distorsi tujuan. Keadaan ini terjadi karena aspek-aspek dasar dari
manfaat teknologi bukannya dinikmati olehnegara importir, tetapi memakmurkan negara
pengekpor atau pembuat teknologi. Negara pengadopsi hanya menjadi konsumen dan
ladang
pembuangan produk teknologi karenatingginya tingkat ketergantungan akan suplai berbagai jenis produk teknologi dan industridari negara maju Alasan umum yang digunakan oleh negara-negara berkembang dalammengadopsi teknologi (iptek) dan industri, searah dengan pemikiran Alfin Toffler maupunJohn Naisbitt yang meyebutkan bahwa untuk masuk dalam era globalisasi dalam ekonomidan era informasi harus melewati gelombang agraris dan industrialis. Hal ini didukung olehitikad pelaku pembangunan di negara-negara untuk beranjak dari satu tahapan pembangunanke tahapan pembangunan berikutnya.
ladang
pembuangan produk teknologi karenatingginya tingkat ketergantungan akan suplai berbagai jenis produk teknologi dan industridari negara maju Alasan umum yang digunakan oleh negara-negara berkembang dalammengadopsi teknologi (iptek) dan industri, searah dengan pemikiran Alfin Toffler maupunJohn Naisbitt yang meyebutkan bahwa untuk masuk dalam era globalisasi dalam ekonomidan era informasi harus melewati gelombang agraris dan industrialis. Hal ini didukung olehitikad pelaku pembangunan di negara-negara untuk beranjak dari satu tahapan pembangunanke tahapan pembangunan berikutnya.
Dukungan SDM inovatif dalam
melaksanakan strategi industrialisasi di atas, kita harus meningkatkan
kapasitas bangsa dalam menguasai, menghasilkan, dan menerapkan inovasi IPTEKS
(Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Seni) dalam segenap aspek kehidupan, khususnya
di bidang industri dan ekonomi.
Supaya kapasitas inovasi bangsa
Indonesia bisa sejajar dengan negara-negara industri maju, maka kualitas SDM
(Sumber Daya Manusia) mesti terus menerus ditingkatkan, sehingga memiliki
pengetahuan, keahlian, daya inovasi, dan etos kerja yang unggul.Ini dapat
dilakukan melalui penguatan dan pengembangan sistem pendidikan, R & D
(Penelitian dan Pengembangan), pelatihan, dan pelayanan kesehatan prima.
Sistem pendidikan mesti dirombak
agar mampu menumbuh-kembangkan budaya inovasi. Bukan hanya budaya menghafal
seperti sekarang. Pemerintah berkewajiban mengajak perusahaan-perusahaan swasta
nasional maupun internasional untuk ’mengindustrikan’ hasil-hasil penelitian
dari Perguruan Tinggi, BPPT, LIPI, dan lembaga penelitian lain, dari tahap
prototipe (skala laboratorium) menjadi produk teknologi komersial yang laku di
pasar domestik maupun global.
Dengan melaksanakan peta jalan
pembangunan ekonomi berbasis inovasi seperti di atas, kita akan mampu mengatasi
permasalahaan khronis bangsa seperti pengangguran, kemiskinan, kesenjangan kaya
vs miskin, impor pangan dan energi, dan daya saing yang rendah.
Dapat disimpulkan bahwa industri
adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barangsetengah
jadi atau barang jadi menjadi barang yang bermutu tinggi dalam
penggunaannya,termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri.Di
Indonesia industri masih sangat ketertinggalan dari negara-negara lainnya,
bahkankalah dengan industri negara yang kecil, padahal di Indonesia potensi
untuk di adakannya perindustrian itu sangat bagus. Namun ada
bebarapa faktor yang mempengaruhinya seperti kurangnya SDM, kurangnya teknologi dan pendanaan dari pemerintah. Pada saat sekarang ini, industri di Indonesia mengalami kemajuan banyak industri-industri kecil yang muncul.Akan tetapi, hal ini kurang tepat, karena menimbulkan beberapa dampak yang tidak baik,karena industri-industri di Indonesia tidak memperhatikam permasalah lingkungan terutama permasalahan limbah yang tidak terorganisir
secara baik.
Meskipun dalam upaya yangdilakukan oleh bangsa ini, supaya perindustrian di Indonesia tidak tertinggal telah dibuatkebijakan tentang perindustrian namun pada kenyataannya kebijakan itu belum sepenuhnya efektif.
bebarapa faktor yang mempengaruhinya seperti kurangnya SDM, kurangnya teknologi dan pendanaan dari pemerintah. Pada saat sekarang ini, industri di Indonesia mengalami kemajuan banyak industri-industri kecil yang muncul.Akan tetapi, hal ini kurang tepat, karena menimbulkan beberapa dampak yang tidak baik,karena industri-industri di Indonesia tidak memperhatikam permasalah lingkungan terutama permasalahan limbah yang tidak terorganisir
secara baik.
Meskipun dalam upaya yangdilakukan oleh bangsa ini, supaya perindustrian di Indonesia tidak tertinggal telah dibuatkebijakan tentang perindustrian namun pada kenyataannya kebijakan itu belum sepenuhnya efektif.